Delirium dalam Kesadaran: Antara Mimpi dan Nyata
Delirium dalam Kesadaran: Antara Mimpi dan Nyata**
---
## **Delirium dalam Kesadaran: Antara Mimpi dan Nyata**
Ada saat ketika kita tidak benar-benar terjaga,
tapi juga tidak sedang bermimpi.
Kita melayang di antara dua dunia —
tempat logika kehilangan bentuknya,
dan perasaan menjadi satu-satunya kompas.
Di ruang itu, segalanya terasa nyata sekaligus absurd.
Wajah-wajah muncul tanpa nama,
suara-suara terdengar tanpa sumber,
dan waktu berjalan tanpa arah.
Namun anehnya, semuanya terasa akrab,
seolah kita pernah hidup di sana sebelumnya.
Mungkin inilah yang disebut *delirium*:
bukan kegilaan, melainkan kesadaran yang terlalu terbuka.
Saat pikiran menolak batas antara nyata dan khayal,
dan hati mulai berbicara dalam bahasa yang tak bisa diterjemahkan.
Kita semua, dalam cara masing-masing,
pernah hidup dalam delirium —
saat cinta terasa seperti mimpi yang terlalu hidup,
atau kehilangan terasa begitu nyata
hingga kita lupa bagaimana caranya bangun.
Delirium bukan musuh.
Ia adalah jendela kecil yang memperlihatkan
betapa rapuh dan indahnya batas kesadaran manusia.
Kadang kita butuh tersesat di dalamnya,
untuk menemukan kembali arah pulang.
Mimpi dan nyata mungkin tak pernah benar-benar terpisah.
Keduanya hanyalah dua sisi dari satu napas —
yang mengalir pelan di antara sadar dan tak sadar,
menyisakan pertanyaan yang tak perlu dijawab:
Apakah ini kenyataan, atau hanya cara lain untuk merasa hidup?
---
Comments
Post a Comment